KEBINEKAAN : RAGAM DESAIN DALAM SEHELAI BENANG

Manusia
sebagai makhluk yang tercipta dengan berbagai keunikan personalitas sosial
melalui segala upaya menempatkan dirinya sebagai aksesoris hidup yang butuh
pengakuan. Makhluk yang sadar esensi keberadaannya di bumi pertiwi adalah
sebagai makhluk Sang Khalik namun terus meningkatkan eksistensi diri dengan
kelebihan yang sebenarnya bisa orang lain lampaui. Melalui kelebihan yang
menjadi kodrat manusia secara individualis terkadang berkembang menjadi
pemikiran bersifat autisme yang idealis namun kurang perspektif. Berangkat dari
kata “beragam” keunikan tercipta dengan berbagai sudut pandang, arah perilaku
tindakan, dan pengembangan nilai kebinekaan dalam diri secara personal.
Pemahaman akan nilai personalitas yang sebenarnya ada untuk diperjualbelikan
kepada penilaian orang lain sehingga memaksakan self upgrading untuk dihargai di tengah penghargaan yang tidak
mampu diterima karena persepsi “terlalu biasa”.
Kebinekaan
merupakan cerminan keberagaman. Esensi keberagaman tidak selalu membahas
tentang banyaknya baju adat, bahasa, suku, dan agama yang semua orang tahu.
Kebinekaan bisa dianalogikan dengan sehelai benang. Sehelai benang ketika
disatukan akan mampu menghasilkan karya sandang yang luar bisa, seperti baju
yang menarik dan dibandrol dengan harga jutaan rupiah. Baju kotak-kotak sempat
menjadi tren kampanye pilkada oleh presiden Jokowi. Hal ini karena desain
kotak-kotak dianggap sebagai premis interaksi simbolik konsep diri seseorang
dan sosialisasinya pada komunitas yang lebih besar. Berdasarkan tujuan
pemakaiannya sebagai simbol politik oleh presiden Jokowi, akhirnya ditiru oleh
masyarakat khususnya para anak muda dalam memilih tren berpakaian kotak-kotak.
Sesederhana
analogi Kebinekaan dengan ragam desain dalam sehelai benang, manusia sebenarnya
terlahir di dunia yang sama secara personal yang kemudian terbentuk melalui
lingkungan dengan berbagai ciri khas di dalamnya. Hal ini menyebabkan manusia
punya keberagaman di berbagai belahan dunia, khususnya Indonesia. Masyarakat
Madura punya bahasa Madura dan baju adat sakera marlena karena mereka terlahir
di Madura, masyarakat Sumatera Barat punya rumah gadang karena mereka terlahir
di sana, pun seterusnya. Perbedaannya hanya terletak pada posisi di mana
masyarakat dilahirkan dengan ciri khas di daerahnya, sedangkan toleransi setiap
manusia tidak ada tetapan kadar dan syaratnya.
Terbentuk
menjadi seperti apapun manusia di lingkungannya dengan baju adat, bahasa, suku,
budaya, dan agama yang saat ini dimiliki, ditarik dari benang lahiriah bahwa
ini bukan terletak pada perbedaannya namun terletak pada kegunaannya. Hal ini
berkaca pada benang dengan warna yang beragam namun bisa saling menguatkan dan
menciptakan suatu ragam desain ketika dipersatukan. Seperti desain kotak-kotak
yang tidak beraturan dan warna-warni dengan ragam motif dan warna.
Keberagaman
hanya sebuah ragam desain, sedangkan inti susunannya adalah sehelai benang sama
seperti toleransi yang merupakan kunci kehidupan yang bineka. Saat ini kita
punya pakaian yang bagus dan warna-warni, tapi asal mereka dari sehelai benang.
Saat ini juga kita hidup bertetangga, bisa mengenal peradaban di berbagai
daerah di Indonesia, bahkan yang terpenting bisa saling menerima dan menguatkan
karena rasa toleransi. Toleransi adalah sehelai benang yang mampu menciptakan
estetika kehidupan dalam keberagaman dan ragam desain yang dicintai banyak
orang. Keberagaman ada sebagai kelebihan, bukan sebagai alasan perpecah
belahan. Manusia individualisme jangankan bisa hidup, sehelai benang pun yang
enggan bersatu lama-lama akan kotor karena angin debu dan tersingkirkan dari
estetika kerukunan. Ragam desain dalam sehelai benang, keberagaman dalam
persatuan.
Komentar
Posting Komentar